Humor - Sama Sama Bego


Read More
Ku-klik - Toyib dan Sueb saling berbincang tentang kebodohan anak mereka masing-masing.

"Coba lihat bagaimana begonya anak gua, Otong." Kata Sueb.
"Otong... ke sini!" panggil Sueb.
"Ini duit sepuluh rebu, lu pergi beli handphone kamera, cepet!"

Otong lansung lari setelah menerima duit sepuluh ribu dari bapaknya.

"Ah, itu belum apa-apa," kata Toyib.
"Nih lihat anak gua..., Solihin... Solihin... kemari cepetan!" panggil Toyib.
"Coba lu pergi ke kantor Babe dan cari apa Babe ada di sono,"

Tanpa banyak tanya lagi Solihin lansung berangkat.

Di tengah jalan Otong dan Solihin ketemu. Dua-duanya saling meributkan kebodohan bapaknya masing-masing.

"Coba lihat bapak gua," kata Otong.
"Gua di kasih duit sepuluh rebu terus disuruh beli handphone kamera. Anak orok juga tau, hari minggu gini mana ada toko HP yang buka."

"Babe gua lebih bego lagi...," kata Solihin.
"Masa, gua disuruh ke kantornya untuk cari dia. Betul-betul kelewatan. Kan sebenernya dia bisa telepon, terus nanya ada di sono apa kagak....."

Mudah-mudahan cerita di atas bisa membuat kita tersenyum dan jangan galau... Hehehe...

Humor - HP Setan!


Read More
Ku-klik - Suatu hari pak Memed (temen seprofesi) sedang mengawas Ujian Sekolah. Dalam beberapa peraturan saat mengikuti Ujian sekolah para siswa dilarang membawa HP, tapi tiba-tiba ada suara dering HP terdengar :

Pak Memed : “Suara HP siapa itu?”..

Semua siswa tertunduk tak ada yang mengaku, dan suara HP kembali terdengar.

Pak Memed : “Sudah saya bilang saat Ujian Sekloah dilarang membawa HP apalagi sampai bunyi…”

Para siswa semakin tertunduk dan suasana kelas semakin mencekam. Suara dering HP kembali terdengar.

Pak Memed akhirnya berkeliling kelas dan memeriksa satu persatu siswa yang ada di kelas tetapi tidak ditemukan satu siswa pun yang membawa HP.

Suara dering HP kembali terdengar, semua siswa bingung termasuk pak Memed dengan wajah garang dan penuh keyakinan pak Memed mengatakan : “kalau tak ada yang mengaku dimana disimpannya HP itu, setan kali ya yang bawa HP”.

Semua siswa dalam kelas tersenyum karena kembali terdengar suara dering HP.

Pak Memed : “kenapa kalian tersenyum?”

Siswa di kelas dengan serempak menjawab : “Maaf pak…sepertinya suara dering HP itu dari saku celana bapak…”.

Dengan amat cekatan dan sigap pak Memed merogoh saku celananya, ternyata dering HP yang selama beberapa menit ini terdengar berasal dari saku celananya.

Siswa di kelas : “Pak Memed, jadi yang bawa HP itu setan ya pak…”. (para siswa menahan ketawa).

Pak Memed tidak mampu menolak kata-kata yang diucapkan balik oleh siswanya selain menyesali kata-kata yang telah dia ucapkan (pantang menjilat ludah itu prinsip pak Memed). Titin Sulistiawati.

Sumber: Kompasiana

Humor - Seribu Ciuman


Read More
Anti Galau - Dikisahkan ada sepasang suami istri yang belum memiliki anak dan kebetulan tingaal berpisah , sang suami di kota dengan pekerjaannya, dan sang istri masih tinggal di kampung.

Sang suami terkenal sangat kikir termasuk kepada istrinya , termasuk mengirimkan penghasilan bulanannya selalu saja ada alasan untuk memotongnya, apalagi 100 % dikirimkan kepada sang istri, ini tidak pernah terjadi. Setiap bulan cuma dikirimkan paling banyak 60 % dengan alasan biaya hidup di kota lebih mahal daripada biaya istrinya di kampung. Padahal istrinya punya kewajiban nyicil rumah 4 S nya ke KPR.

Tetapi sang istri tetap berusaha untuk sabar menerima kebijakan sang suami itu, dia tidak ingin menjadi pertengkaran ketika sang suami pulang ke kampung yang dilakukan hanya satu kali dalam sebulan, dengan alasan ngirit ongkos katanya.

Suatu hari sang suami sms kepada istrinya : ” Mah……….papah bulan ini tidak bisa kirim uang gajih padamu , karena kebetulan ada keperluan kantor yang mendadak, kan uang kiriman bulan lalu masih ada ya ? Sekarang papah kirimkan untuk mamah tersayang 1000 ciuman saja ya……salam kangen dari papah, bulan depan papah kirim lagi uang gajihnya “.

Walau terasa sangat menjengkelkan tapi sang istri tetap diam dan termenung sejenak , lalu terlihat tersunging sebuah senyuman yang penuh arti.

Setelah satu minggu , sang istri membalas sms suaminya : ” Pah…tenang saja ga apa2 kok kalo papah bulan ini tidak kirim uang gajih karena banyak pengeluaran , ternyata seribu ciuman kiriman papah bisa saya pergunakan untuk membayar keperluan bulanan mamah, kemarin untuk bayar listrik mamah bayar denga 4 ciuman kepada petugasnya , cicilan rumah kita mamah bayar dengan 5 ciuman kepada petugas banknya, juga tukang sayur si Ali yg mahasiswa dan ganteng itu mamah bayar setiap hari 2 ciuman , juga supir taxi ketika mamah pergi mamah bayar 10 ciuman karena cukup jauh, malah si supir menawarkan kalo mau pergi lagi atau tidak……….besok malam minggu mau jajan bakso yg tukang baksonya keren itu rencana mau mamah bayar 5 ciuman…..jadi papah ga usah kawatir ya…..persediaan ciuman kiriman papah masih banyak ..tenang aja ya pah…”.

Sang suami begitu selesai membaca sms istrinya…….GEDUBRAGGGGG……jatuh pingsan. ( Makanya jangan sembarangan kepada istri yang cerdik…heheheh)
Created by : Puspita Wasita

Sumber: Kompasiana

Surat Seorang Polisi Jujur Kepada Tuhan


Read More
Anti Galau - Almarhum Gus Dur pernah melontarkan suatu canda bermakna tentang polisi. Kata beliau, “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi yang jujur. Yang pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi. Ketiga mantan Kapolri, almarhum Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso.” Tetapi sesungguhnya di negara ini masih banyak polisi (sungguhan) yang jujur. Ini adalah salah satu kisahnya.

Alkisah, ada seorang perwira polisi yang sangat jujur, sebut saja namanya Pak Slamet.  Sepanjang karirnya, tak pernah sepeserpun dia meminta atau menerima suap. Tidak pernah melakukan pemerasan, memberi fasilitas ilegal, atau perbuatan melanggar hukum lainnya. Karirnya memang tidak begitu berkembang, dia mengakhiri karir aktifnya kepolisiannya sebagai seorang Kepala Polsek di suatu daerah.

Karena kebersihan dan kejujurannya, tak heran Pak Slamet menjalani hidup yang sangat sederhana setelah masa pensiun. Tinggal di rumah sangat sederhana dan tidak memiliki harta atau usaha sampingan yang berarti. Sungguhpun demikian, dengan uang pensiunnya yang tak seberapa, Pak Slamet dan istrinya memiliki cita-cita tinggi bagi putera tunggalnya, membiayainya menyelesaikan kuliahnya.

Suatu saat Pak Slamet dihadapkan pada sebuah masalah berat. Dia membutuhkan uang sebesar Rp 10 juta segera untuk membiayai tugas akhir anaknya tersebut. Tidak mungkin dia meminjam ke bank, karena tidak memiliki jaminan cukup berarti.

Karena tidak ada jalan lain, Pak Slamet pun menulis sebuah surat yang ditujukan kepada Tuhan:

“Tuhan Yang Terhormat, aku tak tahu lagi harus meminta kepada siapa, maka aku meminta padaMu, ya Tuhan. Aku butuh uang sebesar 10 juta rupiah untuk masa depan anakku. Tolonglah aku, ya Tuhan. Hormat saya, Slamet.”

Surat tersebut dimasukkan ke dalam amplop, di bagian depan dituliskan “Kepada Yth. Tuhan” lalu dibubuhkan perangko secukupnya dan dimasukkan ke dalam kotak pos.

Pak pos yang bertugas mengantarkan surat itu tentu saja kebingungan, harus diantarkan ke mana surat aneh tersebut. Maka dia menyerahkan surat tersebut ke Polsek setempat.

Surat itu menimbulkan kegemparan di kalangan anggota polisi di Polsek. Mereka mengenali pengirimnya sebagai mantan komandannya di situ. Maka sebuah aksi solidaritas digelar. Para anggota polisi di Polsek tersebut patungan mengumpulkan uang untuk membantu Pak Slamet, mantan komandan mereka.

Dalam waktu beberapa hari terkumpullah uang sejumlah Rp 5 juta. Seorang polisi ditugaskan mengantar uang tersebut ke rumah Pak Slamet. Saat menyerahkan uang tersebut dia mengatakan, “Pak Slamet, ini ada titipan dari Tuhan.”

Selang beberapa hari kemudian, sepucuk surat diterima Polsek tersebut. Persis sama dengan surat pertama, berperangko cukup dan di sampulnya tertulis “Kepada Yth. Tuhan“. Isinya:

“Ya Tuhan. Saya mengucapkan terima kasih karena Engkau mengabulkan doaku. Uang dariMu telah aku terima. Tetapi, tolong ya Tuhan. Lain kali Kau serahkan saja langsung padaku, jangan Kau titipkan pada polisi. Karena kalau lewat polisi, uangnya pasti disunat 50%. Hormat saya, Slamet.”
(dituliskan kembali oleh Galuh Trianingsih Lazuardi)

Sumber: Kompasiana